MOTIVASI HIDUP DAN CINTA SEJATI
oleh:Laeli Maria Ulfah
oleh:Laeli Maria Ulfah
Awan tiba-tiba
menghitam..membuat langit menjadi muram hingga sang mentaripun terpejam. Angin
sepoi-sepoi terus menyentuh daun-daun hijau yang bergoyang dengan senang. Tik...tik...tik...air
mata dari langit telah menetes. Terlihat seorang anak perempuan sedang duduk
tenang sembari menatap tajam ke arah rintik-rintik hujan. Dia bernama Aisyah Az
Zahra. Dia biasa dipanggil Aisyah. Waktu itu, dia masih duduk di bangku SMP,
tepatnya kelas VIIIA SMP Negeri 1 Pelangi. Hidupnya yang sederhana dan
berprinsip teguh pada ajaran Agama Islam,
membuat teman-temannya menjadi lebih akrab dan nyaman. “Tak
terasa..hujan pun telah berhenti menandakan bahwa aku sudah lama melamun dari
tadi..astaghfirullohal’adziim..”kata Aisyah. Ia pun bergegas untuk mandi,
sholat, dan mengaji.
Malam yang
sunyi..suara jangkrik bersahutan satu sama lain..udara terasa begitu dingin. Aisyah
telah tidur dengan nyenyak. “Di mana aku? Kenapa ini begitu berbeda? Maaf, Anda
siapa ya?” kata Aisyah. Makhluk berjubah putih menghampirinya, dan berkata, “bangun
nak..” sekejap saja makhluk itu menghilang. Aisyah pun keheranan akan kejadian
yang baru saja dilihatnya itu. Kemudian dia sadar dan terbangun dari mimpinya,
astaghfirullohal’adziim..ternyata cuma mimpi? Pertanda apakah mimpiku tadi?” kata
Aisyah. Mungkin ini adalah suatu hikmah yang dapat ku ambil sebagai pelajaran,
bahwa kita hidup di dunia ini hanyalah sementara, takkan selamanya..karena tak
ada yang abadi..hidup itu sangatlah singkat..maka, kita harus senantiasa berusaha
menjadi hamba yang taat kepada Allah SWT, pikirnya dalam hati.
Aisyah
menggerakkan kakinya menuju tempat wudhu. Lalu, dia mengambil air wudhu dan
melaksanakan sholat malam. Dalam suasana yang
tenang dan damai..bersujudlah Aisyah kepada-Nya. Tanpa dia sadari, air
matanya telah menetes lalu berkata, “ Aku ingin curhat dengan-Mu ya Allah..ku
posisikan duduk kembali..tangan merebah ke atas, dengan suara yang lirih, ku
ungkapkan semua, “ ya Allah..Engkau Tuhanku..hamba sangatlah hina di
hadapan-Mu..hamba ingin...sekali membahagiakan orang tuaku..masuk ke surga-Mu
bersama orang-orang yang menyayangiku dan aku sayangi..tapi hamba tahu, hamba
hanyalah manusia yang penuh dosa..merasa tak pantas di surga.. Namun, hamba
juga takut masuk ke neraka-Mu..sebab, siksa di neraka sangatlah pedih.. ya
Allah..hanya kepada-Mu lah ku memohon dan meminta.. Engkau lah segalanya
bagiku.. terimakasih telah menakdirkan hamba sebagai manusia serta memberiku
kesempatan untuk hidup di dunia ini. Ya Allah ya Tuhan ku..ampunilah dosa-dosa
hamba, orang tua hamba, semua saudara hamba, guru-guru hamba, teman-teman
hamba, dan seluruh umat Islam yang ada di dunia ini..bimbinglah hamba agar bisa
menjadi manusia yang Engkau ridhoi..berikanlah hamba kekuatan untuk terus
menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu begitu juga dengan orang-orang
yang menyayangiku dan kusayangi.. aku percaya sepenuhnya kepada-Mu ya Robbi,
Engkau tempat kami bergantung, tak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad SAW
adalah utusan Allah”. Air matanya terus mengalir..seraya berdzikir.. dia
berfikir..dan dia putuskan untuk membaca
surat cinta-Nya yakni Al Quran pikir Aisyah. Lalu, dia membaca dan menghayatinya..subhanallah..hatiku
sangatlah damai gumamnya.
Jarum kecil jam
dinding menunjukkan tepat di angka 3. Aisyah melanjutkan untuk belajar sambil
menunggu adzan subuh berkumandang. Detik demi detik telah berputar. Berkumandanglah
adzan subuh itu. Dengan lemah lembut dia membangunkan ayah bundanya dan kedua
adiknya untuk melakukan sholat subuh berjamaah.
Burung berkicau
di pagi yang bersahaja. Sang mentaripun tersenyum menyambut pagi yang berkabut
kelabu itu. Awan juga mulai merekah meramaikan suasana hari yang cerah. Aisyah
sudah siap berangkat sekolah. Tak lupa ia berpamitan dan mencium tangan kedua
orang tuanya. Dengan semangat tinggi di hati, ku jalani semua..ungkapnya dalam
hati. Langkah demi langkah telah dilaluinya, telah sampailah ia di SMP Negeri 1
Pelangi tercinta.
Kring..kring..kring.. bel masuk pun telah berbunyi. Seorang guru
biologi telah datang ke kelasku. Beliau adalah Ibu Sumiati.
“Selamat
pagi anak-anak..” kata Ibu Sumiati.
“Selamat pagi bu guru..” jawab anak-anak
serempak.
Ibu
Sumiati, “hari ini kita belajar tentang pertumbuhan dan perkembangan pada
tumbuhan, buka buku cetak halaman 123, kalian baca dulu ya”
(setelah
beberapa menit kemudian)
Ibu
Sumiati, “baik akan ibu jelaskan, pertumbuhan dan perkembangan adalah suatu
proses yang berjalan berkesinambungan, dengan perbedaan irreversibel dan
reversibel..paham anak-anak?”
“paham ibu..” jawab anak-anak serempak.
Ibu Sumiati berkata, “Oh ya, ada
pengumuman bahwa pada 22 September 2011
akan diadakan lomba Pramuka tingkat kabupaten, selama 2 hari 1 malam tepatnya
di bumi perkemahan Kincir Angin, yang ibu sebutkan adalah nama-nama siswa yang
mewakili sekolah kita, yaitu Aisyah, Dewi, Fitri, Santi, Diana, dan Isnaeni,
nanti setelah pulang sekolah, kumpul di
kelas IX A, guna persiapan latihan, terimakasih”.
“baik bu...”jawab Aisyah dan kawan-kawan.
Kring..kring..kring..bel
pulang telah berbunyi. Anak-anak pun bergegas pulang, kecuali yang telah
disebutkan tadi. Aisyah, Dewi, Fitri, Santi, Diana, dan Isnaeni segera menuju
kelas IX A. Ketika mereka berjalan, tiba-tiba berhenti dan melongo, seperti
melihat sesuatu, kecuali si Aisyah.
Aisyah, “ hey...kalian kenapa? Ko
berhenti di sini?” pandangan si Aisyah menatap ke arah yang dilihat
kawan-kawannya. “Hmm...jadi kalian berhenti, gara-gara melihat kak Johny?
Astaghfirullohal’adziim”, kata Aisyah kepada mereka.
Diana menjawab, “hey..Aisyah, kita
jarang-jarang loh..bisa melihat ketos yang super pinter dan super ganteng itu?”
“haha..iya bener buangett,” kata si
Santi
“hah? “Tapi kenapa kak Johny palah
senyumnya ke Aisyah coba?” si Dewi ikut nimbrung,
si Fitri menimpalinya, “iyaa...gue
jadi iri sama lo Aisyah?”
Isnaeni ikut-ikutan, “gue jugaa...”
Aisyah mengomentari, “astaghfirullohal’adziim..sudah-sudah..kalau
berhenti..nanti kapan sampainya? Sudah ditunggu sama Ibu Sumiati loh..”
Kawan-kawannya menjawab, “hahaa..bener..setuju
sama lo ! lanjut !” akhirnya..sampailah mereka di IX A.
Hari demi hari
terus berganti. Latihan terus dilakukan. Hari yang ditunggu-tunggupun tiba. Semua
persiapan fisik dan mental telah siap. Tak lupa juga minta restu guru-guru,
orang tua, dan teman-teman. Dengan menggunakan angkutan umum, mereka bersama
pembina menuju bumi perkemahan Kincir Angin. Tibalah mereka dengan selamat, “alhamdulillah
ya..”ucap Aisyah. Lalu, mereka memasang tenda dan menyiapkan semua. Dengan
kerjasama, selesai sudah, tinggal nunggu upacara pembukaan. Setelah upacara
pembukaan dibuka, perlombaan segera dimulai. Pada malam harinya, adalah lomba
PenSi (Pentas Seni). Kebetulan, regu mereka mengeluarkan drama, undi no. 3, ketika
mau tampil rasa deg-degan menyelimuti wajah mereka, terutama Aisyah..
sampai-sampai tangannya menjadi dingin, wajah tampak cerah sekali..seperti es
salju yang membeku. Setelah selesai tampil, mereka bener-bener merasa lega. “alhamdulillah
ya...kita sudah tampil kawan”, kata Aisyah. Tiba-tiba ia tersandung batu,
ketika itu juga..topi koboy yang dipegangnya..terbang melayang..dan ditangkap
oleh seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu melangkahkan kakinya menuju ke
Aisyah. Entah kenapa...anak laki-laki itu begitu yakin, kalau pemilik topi
koboy yang dipegangnya adalah Aisyah. Padahal, si anak laki-laki itu baru
datang ke tempat PenSi, jadi..ga tahu, kalau yang barusan tampil adalah Aisyah
dan kawan-kawan. Rasa yang belum pernah hadir di hati anak laki-laki itu,
tiba-tiba muncul. Hati yang bergetar ketika melangkahkan kakinya menuju Aisyah. Begitu juga dengan Aisyah,
rasa bergetar muncul ketika melihat anak laki-laki itu menghampirinya..
dag..dig..dug...tepat di depannya anak laki-laki berdiri memegang topi
koboynya.
Anak laki-laki itu berkata, “hey
kamu..apakah pemilik topi ini?”
Aisyah dengan gugup menjawab, “heeeh
iyaa...itu topiku, ko ada di kamu?”
anak laki-laki itu menjawab dengan
salting, “owh...itu tadi..sambil garuk-garuk kepala..hey...ngomong-ngomong kita
kan belum kenalan?, namaku Muhammad Al Ghazali, (sambil mengulurkan tangan)
biasa dipanggil Habib, dari SMP Negeri 4 Atas Awan ”
Aisyah menjawab, “afwan..sambil
menundukkan kepala, namaku Aisyah Az-Zahra, biasa dipanggil Aisyah, dari SMP
Negeri 1 Pelangi”.
Si Habib berkata, “maaf, aku jadi
malu Aisyah? Owh ya..tadi topimu terbang, terus sama aku tangkap.. ini topimu..(sambil
menyerahkan topi ke Aisyah)”.
Aisyah menjawab, “owh..iya, makasih
ya Habib, aku juga minta maaf, telah merepotkanmu” Habib menjawab, “ok..sama-sama
Aisyah, sambil tersenyum”. Aisyah membalas senyumannya dengan tersipu..
Tiba-tiba si Dewi, Fitri, Santi, Diana,
dan Isnaeni muncul menghampiri si Aisyah.
Si Aisyah pun kaget.. “hey..kalian?”
si Dewi berkata, “ekhemm ekheem ..”
si Fitri nimbrung, “ciee...cieee...Aisyah?”
si Aisyah mengomentari, “Apaan sih
kalian? Hmm..owh ya Habib, kenalin..ini teman-temanku, Dewi, Fitri, Santi,
Diana, dan Isnaeni”.
Habib menjawab’ “salam kenal juga..”
si Isnaeni berkata, “hey..kita harus segera ke
tenda, ini gue dapat sms dari bu Sumiati” Aisyah berkata, “Habib, kita duluan
ya? Assalamu’alaikum?” si Aisyah dan kawan-kawannya pun bergegas meninggalkan
tempat PenSi.
Habib menjawab, “wa’alaikumsalam..sambil
terus menatap kepergian Aisyah, jodoh pasti bertemu suatu hari nanti....insya
Allah..astaghfirullohal’adziim..Ya Allah..untuk memikirkannya aku pun belum
berhak gumamnya dalam hati.
*****
Waktu terasa semakin berlalu. Tak terasa..si
Aisyah sudah kelas IX SMP begitu juga dengan si Habib. Semenjak kejadian satu
tahun silam, di bumi perkemahan kincir angin, hati mereka seperti terpaut satu
sama lain. walaupun jarak memisahkan.. dihati...mereka tetaplah menyatu. Dalam
pikiranku, baru kamu lah satu-satunya perempuan yang mampu menggetarkan hati
ini. Banyak perempuan yang datang kepadaku, tak mampu menggoyahkan perasaanku
padamu..Aisyah..kaulah cinta pertama dan terakhirku gumam si Habib. Habib
setiap malam berdoa..kepada Allah, jika dia..Aisyah.. memang jodohku..pertemukanlah
kami dalam ikatan pernikahan yang suci tanpa pacaran. Si Aisyah pun merasakan
hal yang sama. Mungkin..karena doa mereka yang tulus mencintai karena Allah semata,
doanya saling tersampaikan.
Siang berganti
malam seperti waktu yang terus berjalan. Hari yang ditunggu-tunggupun telah
datang, yaitu Ujian Nasional. Ibarat angin yang berlalu, Ujian Nasional telah
di lalui. Pengumuman yang dinanti-nantikan telah tiba. Perasaan Aisyah
sangatlah deg-degan begitu juga dengan si Habib. Alhamdulillah, Mereka
sama-sama lulus dengan nilai memuaskan. Kemudian, mereka melanjutkan jenjang
pendidikan SMA. Tanpa disengaja, ternyata mereka satu SMA, tepatnya mereka
bersekolah di SMA Negeri 1 Menara. Walaupun demikian, mereka belum mengetahuinya,
kalau sebenarnya jarak sangatlah dekat. Yang mengetahui, hanyalah Allah SWT..
mungkin rencana manusia indah, tetapi
rencana Allah jauh lebih indah. Si
Aisyah dan si Habib menjalani hidup dengan prinsip yang sama, motivasi hidup
dan cinta sejati adalah Allah SWT. Orang yang baik, insya Allah akan
mendapatkan jodoh yang baik pula. Jodoh kita, cerminan dari diri kita.
Masa-masa SMA
adalah masa-masa paling mengesankan. Ibarat taman yang penuh dengan bunga
berwarna-warni. Aisyah mengisi masa SMA dengan ikut organisasi Kerohanian Islam
(Rohis) dan Kelompok Ilmiah Remaja. Di sini, aku mendapatkan ilmu, pengalaman, sahabat, dan apa ya?susah untuk
diungkapkan.hmm.. gumamnya.
Suatu hari,
Aisyah pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku biologi dan novel. Ketika ia
menemukan buku biologi dan mau mengambilnya dari rak, bersamaan ada seorang
anak laki-laki yang mengambilnya juga. Ternyata..orang tersebut adalah Habib. Dag..dig..dug..spontan
si Aisyah kaget dan seolah tak percaya. Dalam benaknya, ia berpikir, “benarkah
yang di depan ku itu Habib, orang yang selama ini mengisi hatinya?”
Habib juga
merasakan hal yang sama. Jantungku berdebar-debar seperti ada gelombang yang
menggetarkan. Sejenak..mereka saling menatap. Aisyah, “Astaghfirullohal’adziim,
lalu (menundukkan kepala)”
Habib, dalam hati berkata “Ampuni
hamba-Mu ini ya Allah”
Aisyah, “maaf, buku biologinya..”
(belum selesai dipotong)
Habib, “ya sudah.. ambil aja, aku
pakai referensi yang lain, ya ga apa-apa kok”
Aisyah, “beneran?..makasih..” (lalu
berjalan mencari novel)
Habib, “tunggu dulu..apakah kamu
Aisyah Az-Zahra?”
Aisyah, “iya..apakah kamu Muhammad
Habib Al Ghazali?”
Habib, “iya...tak kira kamu sudah
lupa sama aku..hmm?”
Aisyah, “maaf..aku takut mbok salah
orang? Hehe..”s
Habib, “santai..suudah aku maafin
kok..”
Aisyah, “makasih..duluan ya, soalnya
aku buru-buru nih..mau mengerjakan tugaas kelompok, Assalamu’alaikum”
Habib, “wa’alaikumsalam” (sambil
menatap kepergian Aisyah)
Hari-demi hari terus berlalu. Walaupun mereka sudah mengetahui,
jarak mereka sangatlah dekat. Mereka palah jadi malu dan takut akan rasa suka
yang telah dipendamnya selama ini. Mereka tidak pernah sms an, inbokan, apalagi
pacaran. Dalam pikiran, mereka satu tujuan. Hidup di dunia ini bukan lah
segalanya. Mereka selalu meningkatkan iman dan taqwa, sebab, Allah SWT adalah
tujuan hidup bagi mereka. Cinta dalam diam. Cinta dalam hati. Mereka berharap,
suatu hari nanti akan ada jawaban dari Sang illahi robbi. Jika memang berjodoh,
pasti bertemu dalam ikatan yang suci. Namun, bila Allah SWT berkendak lain, pasti
Allah telah merencanakan yang terbaik.
No comments:
Post a Comment